Ponorogo – Kondisi memprihatinkan infrastruktur jalan kembali terjadi di Desa Pagerukir, Kecamatan Sampung, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur. Sebuah ruas jalan yang menjadi akses vital warga dilaporkan mengalami kerusakan parah dan telah lama tidak mendapatkan perhatian serius dari pihak terkait, khususnya Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kabupaten Ponorogo.

Pantauan di lapangan menunjukkan kerusakan jalan tidak lagi dalam kategori ringan. Aspal mengelupas hampir di sepanjang ruas, menyisakan lubang-lubang dalam yang tersebar tak beraturan. Di beberapa titik, lubang bahkan tertutup genangan air saat hujan turun, membuat pengendara sulit memperkirakan kedalaman dan kondisi jalan. Situasi ini kian memperparah risiko kecelakaan, terutama bagi pengguna kendaraan roda dua.
Ironisnya, jalan tersebut merupakan jalur utama yang setiap hari dilalui oleh anak-anak sekolah. Minimnya penerangan di beberapa titik serta kondisi jalan yang tidak layak membuat keselamatan mereka terancam setiap saat. Warga menyebut, insiden kecelakaan sudah berulang kali terjadi, dengan korban terbanyak berasal dari kalangan pelajar.
“Setiap hari anak-anak lewat sini. Sudah sering jatuh, apalagi kalau pagi terburu-buru berangkat sekolah atau saat hujan. Ini bukan lagi soal nyaman, tapi sudah darurat keselamatan,” ujar Karyono, Ketua RT 02/RW 01 Desa Pagerukir.
Menurutnya, keluhan terkait kondisi jalan tersebut bukan hal baru. Warga telah berulang kali menyampaikan aspirasi dan laporan kepada pihak berwenang, namun hingga kini belum ada realisasi perbaikan yang signifikan. Ketidakjelasan respons inilah yang memicu kekecewaan mendalam di tengah masyarakat.
Merasa tidak bisa terus bergantung pada janji tanpa kepastian, warga akhirnya mengambil langkah konkret. Dengan semangat gotong royong, masyarakat bersama pengurus RT, perangkat desa, dan elemen warga lainnya berinisiatif melakukan penambalan jalan secara swadaya.
Yang menarik sekaligus menyentuh, dana yang digunakan untuk kegiatan tersebut sebagian berasal dari bingkisan Lebaran yang seharusnya menjadi hak pribadi Ketua RT, pengurus desa, serta perangkat desa. Dana tersebut secara sukarela dikumpulkan dan dialihkan untuk kepentingan bersama.
“Kami sepakat, daripada hanya dinikmati sendiri, lebih baik digunakan untuk kepentingan warga. Walaupun hanya tambal sulam dan tidak permanen, setidaknya bisa mengurangi risiko kecelakaan,” jelas Karyono.
Proses penambalan dilakukan secara manual dengan alat seadanya. Warga bahu-membahu mengisi lubang menggunakan material yang tersedia, meskipun mereka menyadari bahwa solusi ini bersifat sementara dan tidak akan bertahan lama, terlebih saat musim hujan.
Aksi swadaya ini pun menjadi potret nyata kuatnya solidaritas masyarakat desa, sekaligus sindiran terbuka terhadap lambannya penanganan dari pemerintah daerah. Jalan yang seharusnya menjadi tanggung jawab negara justru harus ditangani secara mandiri oleh warga demi keselamatan bersama.
Warga berharap pemerintah tidak menutup mata terhadap kondisi ini. Mereka mendesak agar Dinas PU Kabupaten Ponorogo segera turun tangan melakukan perbaikan permanen dengan kualitas yang layak, mengingat jalan tersebut merupakan akses penting bagi aktivitas ekonomi, pendidikan, dan mobilitas warga sehari-hari.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari pihak Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Ponorogo terkait kapan perbaikan akan dilakukan. Ketidakpastian ini semakin memperkuat kesan adanya pembiaran terhadap kerusakan infrastruktur yang berdampak langsung pada keselamatan masyarakat.
kondisi jalan rusak di Desa Pagerukir ini menjadi peringatan keras bahwa keterlambatan penanganan infrastruktur bukan sekadar persoalan teknis, melainkan dapat berubah menjadi ancaman nyata yang setiap hari mengintai nyawa warga, terutama generasi muda.
Suwito - wartawan Gaptacyber Indonesia,




