PONOROGO – Sebagai kota yang telah diakui sebagai bagian dari jaringan kota kreatif dunia dan memiliki Reog Ponorogo yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO, Ponorogo terus menunjukkan kekuatan ekosistem budaya kreatif yang hidup dan mampu menggerakkan ekonomi masyarakat.
Dalam rangkaian Grebeg Suro 2026 yang menghadirkan 29 kegiatan budaya dan seni, salah satu agenda yang menarik perhatian adalah Pagelaran Pusaka 2026. Kegiatan ini menjadi ruang edukasi sekaligus pelestarian berbagai warisan budaya berupa pusaka yang memiliki nilai sejarah, filosofi, dan seni tinggi.
Pagelaran ini melibatkan sejumlah paguyuban pelestari pusaka dan budaya Ponorogo, yakni Paguyuban Pangrekso Pusaka dan Budaya Cinde Puspito, Paguyuban Aji Wengker, Paguyuban Sabuk Inten Nusantara, Paguyuban Pangrekso Bhumi Wengker, serta Paguyuban Pramono atau Paguyuban Pangrekso Mothik Ponorogo.
Ketua Pelaksana Pagelaran Pusaka 2026, Titis Mursito, menjelaskan bahwa pusaka bukan sekadar benda warisan, melainkan karya seni yang sarat makna dan nilai filosofis.
"Filosofi pusaka adalah barang warisan yang mempunyai nilai. Dari bentuk dan bahannya merupakan karya seni yang memiliki makna. Pada pusaka terdapat simbol-simbol atau pamor yang mengandung doa dan harapan," ujarnya.
Menurutnya, terdapat sekitar 200 jenis keris dengan beragam pamor yang masing-masing memiliki makna tersendiri. Dari sisi esoteris, pusaka mengandung nilai spiritual, doa, dan filosofi kehidupan. Sedangkan secara eksoteris, pusaka dapat dipahami melalui bentuk, bahan, teknik pembuatan, serta nilai seni yang tampak secara fisik.
Salah satu yang menjadi perhatian dalam pagelaran ini adalah keberadaan Mothik Ponorogo yang dilestarikan oleh Paguyuban Pramono. Titis menjelaskan bahwa sebelum dikenal sebagai Mothik, terdapat bentuk senjata yang disebut Menthok yang menjadi cikal bakal lahirnya Mothik. Bentuk Menthok pertama kali tercatat dalam penelitian Sir Stamford Raffles dalam bukunya History of Java.
Mothik memiliki sejumlah ciri khas, di antaranya gagang berbentuk yendal pancing yang dilengkapi pin atau pantek sebagai pengunci bilah, adanya kurung yang mengikat bilah dengan gagang, bagian pangkal bilah yang tidak tajam sepanjang sekitar 2 hingga 3 sentimeter, serta sarung bilah yang terbuat dari kulit.
Selain pameran berbagai jenis pusaka, Pagelaran Pusaka 2026 juga menghadirkan sejumlah atraksi edukatif, seperti peragaan pembuatan keris oleh Mpu Mageti dari Kabupaten Magetan, prosesi jamasan pusaka, serta pameran cinderamata bernuansa pusaka yang menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat dan wisatawan.
Melalui kegiatan ini, Ponorogo tidak hanya menjaga kelestarian warisan budaya leluhur, tetapi juga memperkuat identitas daerah sebagai pusat kreativitas budaya yang terus berkembang di tingkat nasional maupun internasional.
Wartawan: Drs. Sugeng Wiyono, SH,MSi





